Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Iklan Mimbar Bangsa – Pasang Iklan untuk Promosi Bisnis dan Produk
Iklan Mimbar Bangsa – Pasang Iklan untuk Promosi Bisnis dan Produk
Iklan Mimbar Bangsa – Media Berita Terpercaya untuk Promosi Bisnis dan Produk
Atap IjukAtap RumbiaJakartaPrabowo Subianto

Presiden Prabowo Ajak Kembali Gunakan Atap Ijuk dan Rumbia, Mengapa?

4
×

Presiden Prabowo Ajak Kembali Gunakan Atap Ijuk dan Rumbia, Mengapa?

Share this article
Iklan Mimbar Bangsa – Pasang Iklan untuk Promosi Bisnis dan Produk

Jakarta, MIMBARBANGSA.COM — Usulan Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat kembali mempertimbangkan penggunaan atap berbahan alami seperti ijuk dan rumbia memunculkan kembali perbincangan mengenai material bangunan tradisional Indonesia. Gagasan tersebut disampaikan sebagai alternatif penggunaan atap seng dan asbes yang dinilai memiliki potensi risiko terhadap kesehatan.

Iklan Banner
Iklan Mimbar Bangsa – Pasang Iklan untuk Promosi Bisnis dan Produk

Pernyataan Presiden itu sekaligus mengingatkan publik bahwa sebelum material modern berkembang luas, masyarakat Nusantara telah lama memanfaatkan bahan-bahan alami sebagai penutup rumah. Ijuk maupun rumbia dikenal sebagai material yang berasal dari sumber daya alam dan pernah menjadi bagian dari identitas arsitektur tradisional di berbagai daerah.

Atap ijuk merupakan penutup bangunan yang dibuat dari serat hitam pohon aren (Arenga pinnata). Berdasarkan kajian dalam jurnal Penggunaan Ijuk Sebagai Material Atap Alami karya Ida Bagus Andyka Prasetya Putrasusila, serat ijuk memiliki karakter kuat, lentur, tidak mudah rapuh, serta tahan terhadap kelembapan.

Karakteristik tersebut membuat atap ijuk dikenal cukup awet dan mampu bertahan menghadapi berbagai kondisi cuaca. Karena sifatnya yang alami, material ini sejak lama digunakan sebagai salah satu pilihan utama untuk bangunan tradisional di Indonesia.

Sementara itu, atap rumbia dibuat dari daun rumbia atau nipah yang banyak tumbuh di kawasan tropis. Mengacu pada jurnal Pemberdayaan Atap dari Rumbia untuk Peningkatan Perekonomian Masyarakat Desa Sei Tatas, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia karya Rahmah dan rekan, daun rumbia memiliki serat yang kuat sekaligus lentur sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku atap yang ramah lingkungan.

Material tersebut diproses melalui tahapan pengeringan sebelum kemudian disusun menjadi lembaran atap yang siap digunakan pada bangunan.

Meski memiliki nilai historis dan memanfaatkan bahan alami, penggunaan atap ijuk maupun rumbia pada masa kini dinilai menghadapi sejumlah tantangan.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto, menjelaskan bahwa pada masa lampau hampir seluruh rumah di Nusantara menggunakan atap berbahan dasar ijuk ataupun rumbia. Namun, seiring perkembangan teknologi konstruksi, penggunaan kedua material tersebut kini lebih banyak dijumpai di kawasan pedalaman.

Menurutnya, secara teknis atap ijuk dan rumbia masih memungkinkan untuk diterapkan pada bangunan. Akan tetapi, material tersebut dinilai kurang praktis untuk kebutuhan masyarakat modern.

Selain itu, industri yang secara khusus memproduksi atap berbahan ijuk dan rumbia juga sudah sangat terbatas. Di sisi lain, masyarakat kini memiliki banyak pilihan material atap yang menawarkan daya tahan lebih tinggi serta perawatan yang lebih mudah.

Teguh juga mengingatkan bahwa atap berbahan alami memiliki sejumlah kelemahan, di antaranya lebih mudah terbakar dan berpotensi mengalami kebocoran apabila tidak dipasang maupun dirawat dengan baik.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ajakan agar masyarakat mulai mengurangi penggunaan atap seng dan asbes. Ia mendorong pemanfaatan genteng sebagai pilihan yang lebih baik, bahkan menyebut penggunaan ijuk maupun rumbia sebagai bagian dari identitas rumah asli Indonesia.

Dalam peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Presiden menyatakan bahwa masyarakat Indonesia sejak dahulu telah mampu membuat genteng sehingga teknologi tersebut bukanlah hal baru. Ia juga menilai penggunaan seng yang telah berkarat dapat menimbulkan persoalan kesehatan bagi penghuni rumah.

Di sisi lain, terdapat pula catatan mengenai penyebutan istilah “rumbia” yang kerap disebut “rumbai”. Berdasarkan penelusuran yang dikutip dalam informasi awal, tidak terdapat jenis atap bernama rumbai. Penyebutan tersebut muncul karena bentuk susunan daun rumbia yang menyerupai rumbai sehingga kedua istilah sering digunakan secara bergantian oleh masyarakat.

Usulan Presiden tersebut membuka kembali ruang diskusi mengenai keseimbangan antara pelestarian material tradisional dan kebutuhan konstruksi modern yang menuntut aspek keamanan, kepraktisan, serta ketahanan bangunan.

#PrabowoSubianto #AtapIjuk #AtapRumbia #Jakarta #MaterialAlami #ArsitekturIndonesia #Genteng #RumahTradisional #Properti #MimbarBangsa

Iklan Mimbar Bangsa – Pasang Iklan untuk Promosi Bisnis dan Produk
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *